Senin, 22 April 2013

Amaliyah Sholawat Dalail Khoirot di maqom KI AGENG KARUTANGAN (23 - 29 April 2013)


SEJARAH SINGKAT TERSUSUNYA KITAB DALAIILUL KHOIROT

Penyusun kitab dalailul Khoirot adalah Imam Abu Abdulloh Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli atau dikenal dengan Syeh Jazuli, Beliau bermukim dinegri Maghrobi negri Afrika, Beliau wafat pada Tanggal 16 Robiul Awal Tahun 875 Hijriyah,dan dimakamkan dsi Desa Suwas, dan setelah 77 tahun jenazahnya dipindah ke tanah marakisi, dan ketika jenazah Beliau diangkat dari dalam kubur, keadaanya tidak berubah sama sekali, Ia masih tetap utuh seperti semula rambut dijenggotnya kelihatan masih baru dicukur karena dahulu ketika akan wafat beliau sempat mencukur jenggot terlebih dahulu, sehingga makamnya menjadi makan yang agung dikarenakan banyak sekali orang yang berziarah kepadanya, dan do’a-do’a yang dibaca oleh para peziarah adalah memperbanyak membaca Dalailul Khoirot.

Pada suatu hari beliau akan mengambil air wudhu, namun tali timbanya putus akhirnya beliau berusaha untuk mencari tali pengganti, karena begitu dalamnya sumur setiap tali yang ia masukan kedalam sumur tali itu tidak pernah sampai, sehingga membuatnya bingung, namun tiba-tiba ada seseorang yang datang kemudian meludah disumur itu dan begitu mudahnya orang itu mengambil air dengan tanganya sendiri karena setelah sumur itu ia ludahi tiba-tiba air yang ada didalam sumur itu naik keatas dengan sendirinya. Kemudian Syeh Jazuli bertanya ” dengan apakah engkau memperoleh karomah ini..?” jawabanya ” Karena saya memperbanyak membaca sholawat kepada nabi Muhammad SAW.. kemudian Beliau Syeh Jazuli bersumpah akan menyusun sebuah kitab yang berisi tentang sholawat. Akhirnya setelah Beliau melakukan Riyadhoh dan Uzlah selama 41 tahun maka beliau dapat menyusun kitab Dlailul Khoirot ini. Akhirnya makam beliau selalu harum semerbak baunya, hal ini karena beliau selalu membaca Sholawat kepada Nabi SAW selama hidupnya.


KI AGENG KARUTANGAN:
CIKAL BAKAL DUSUN PAGERGUNUNG, PIYUNGAN, BANTUL


Keletakan:
Makam Ki Ageng Karutangan terletak di Dusun Pagergunung, Kalurahan Sitimulya, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Lokasi makam ini dapat dicapai melalui Jalan Raya Yogyakarta-Wonosari. Setelah sampai di perempatan Kids Fun, ambil jalur kea rah selatan hingga Jembatan Sungai Opak. Pada Jembatan Sungai Opak ini ambil jalur kea rah kiri (timur). Ikuti terus jalan desa hingga sampai di kompleks makam Ki Ageng Karutangan yang dinamakan juga kompleks Makam Sentono.


Data Fisik:
Makam Ki Ageng Karutangan terbuat dari cor semen berlapis tegel keramik warna biru muda. Panjang nisan 225 Cm, lebar 75 Cm, tinggi 100 Cm. Nisan makam Ki Ageng Karutangan ini berdampingan dengan nisan putranya yang bernama Ki Joko Karutangan di sisi kanannya. Sedangkan pada sisi kanan nisan Ki Joko Karutangan terdapat nisan Kyai Mondoleko, abdi setia Ki Ageng Karutangan. Nisan Ki Joko Karutangan juga terbuat dari cor semen berlapis tegel keramik berwarna biru muda. Sedangkan nisan Kyai Mondoleko terbuat dari batu kali (andesit) dan bercat hitam.

Nisan Ki Joko Karutangan berukuran relatif sama dengan nisan Ki Ageng Karutangan. Panjang nisan Kyai Mondoleko berukuran sekitar 110 Cm, lebar 75 Cm, dan tinggi 80 Cm. Ketiga nisan ini berada dalam naungan satu cungkup berbentuk pendapa dengan pilar beton sebanyak 18 buah. Ketinggiang cungkup sekitar 3,5 meteran. Di samping nisan ketiga tokoh tersebut di dalam cungkup ini terdapat juga nisan dari Bupati I Kabupaten Bantul yang bernama KRT. Mangunnegara.

Untuk menuju lokasi makam ini pengunjung harus menapaki jalan mendaki karena kompleks makam terletak di atas sebuah puncak bukit. Sementara itu kondisi jalan yang menghubungkan kompleks makam dengan Dusun Pagergunung berada pada sisi selatan-timur Sungai Opak. Jadi dapat dikatakan bahwa jalan tersebut meniti tepian (di atas jurang) Sungai Opak.


Latar Belakang:
Menurut sumber setempat Ki Ageng Karutangan merupakan tokoh pelarian dari Majapahit. Dalam pelariannya itu Ki Ageng Karutangan membawa banyak pengikut. Ketika sampai di wilayah Mataram mereka itu disuguhi makanan. Akan tetapi karena jumlah pengikutnya banyak, pihak Mataram merasa kuwalahan. Mereka kuwalahan dalam memasak atau menanak nasi karena kurangnya tenaga ahli dalam soal itu.

Melihat keadaan atau kondisi yang demikian Ki Ageng Karutangan kemudian ikut membantu. Untuk membalik atau mengaduk nasi dalam kukusan yang ditumpangkan di atas dandang, Ki Ageng Karutangan hanya menggunakan tangan telanjang. Dengan demikian pekerjaan menanak nasi dapat berjalan dengan cepat. Hal yang demikian tentu saja menimbulkan keheranan bagi banyak orang. Oleh karena perbuatannya yang demikian itu, ia kemudian diberi gelar nama Ki Ageng Karutangan. Sedangkan siapa nama sesungguhnya dari tokoh ini tidak pernah diketahui.

Setelah peristiwa itu Ki Ageng Karutangan diberi tempat oleh pihak Mataram untuk memilih sendiri tempat tinggalnya. Ki Ageng Karutangan memutuskan untuk memilih tempat terpencil yang sekarang dikenal dengan nama Dusun Pagergunung. Di tempat inilah ia mendirikan padepokan dan mendapatkan banyak murid. Disebutkan oleh sumber setempat beberapa murid yang terkenal dari Ki Ageng Karutangan di antaranya bernama KRT. Suryobrongto, KRT. Lurah Sepuh, Raden Ayu Siti Sundari, dan Raden Ayu Panukmawati.

sumber : http://www.tembi.org